Publish Date: Rabu, 05 Aug 2026
Bagi generasi yang lahir sebelum era milenial, kata literasi biasanya identik dengan kemampuan membaca informasi dalam bentuk buku, koran, atau majalah. Transfer informasi datang melalui proses berlapis ada redaktur yang menyunting, ada verifikasi sebelum naik cetak, ada jeda waktu antara peristiwa terjadi dan berita sampai ke tangan pembaca. Membaca pun adalah aktivitas yang tenang: duduk dengan satu buku, menyelesaikannya halaman demi halaman, tanpa gangguan notifikasi.
Kini, lanskap itu bergeser total. Buku dan koran berbagi ruang dengan linimasa media sosial, artikel pendek, video singkat, dan pesan berantai yang bisa sampai ke jutaan orang hanya dalam hitungan menit.
Perubahan paling mendasar bukan hanya soal media, tapi soal cara kita membaca. Dulu, membaca buku berarti mengikuti alur yang sudah disusun penulis dari awal sampai akhir. Di dunia digital, kita meloncat dari satu tautan ke tautan lain, membaca sepotong-sepotong, sering kali berhenti di tengah jalan begitu ada notifikasi baru. Konsentrasi menjadi sumber daya yang makin langka, dan kemampuan untuk fokus membaca sesuatu secara utuh menjadi keterampilan tersendiri yang perlu dilatih.
Dulu, mengakses informasi butuh usaha, pergi ke perpustakaan, berlangganan koran, menunggu edisi majalah terbit. Sekarang, informasi datang menghampiri kita, bukan sebaliknya. Ini membawa manfaat besar: pengetahuan yang dulu sulit dijangkau kini ada dalam genggaman, dan siapa pun bisa belajar apa saja kapan saja. Namun, melimpahnya akses ini juga berarti kita harus lebih aktif memilah mana yang benar-benar bermanfaat di tengah begitu banyak pilihan.
Pergeseran ini bukan tentang buku yang kalah oleh layar, atau digital yang menggantikan analog sepenuhnya. Keduanya kini hidup berdampingan, masing-masing dengan kekuatannya. Buku memberi ruang untuk berpikir dalam dan mendalam; media digital memberi akses cepat dan luas. Tantangannya adalah bagaimana kita mengambil yang terbaik dari keduanya — kedalaman dari kebiasaan membaca lama, dan kecepatan serta keterhubungan dari dunia digital — tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi.
Literasi hari ini bukan lagi sekadar bisa membaca huruf, melainkan kemampuan menavigasi dua dunia sekaligus: dunia yang tenang di atas kertas, dan dunia yang cepat di atas layar.
Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah cara manusia mengakses informasi…
Menulis bukan hanya sebuah bentuk ekspresi kreatif atau alat untuk berkomunikasi, tetapi juga dapat berfungsi…